DAKWAH SUNNIY


Muktazilah Dan Mauqif Penafsiran Mereka Terhadap Al-Quran

Posted in Waspadai oleh dakwahsunniy pada 13 Februari 2010

 

 

MUKTAZILAH DAN MAUQIF PENAFSIRAN MEREKA TERHADAP AL-QURAN

 

 

Oleh : Nordin bin Othman : BA Universiti Al-Azhar

 

 

 

SEJARAH KEMUNCULAN MUKTAZILAH

 

Golongan ini mula muncul di zaman khilafah Umawiyyah di bawah pemerintahan Hisyam bin Abdul malik di akhir kurun pertama hijriyah. Para Ulama berselisih pendapat dalam memberi makna asal-usul datangnya muktazilah itu sendiri. Menurut riwayat yang masyhur di kalangan jumhur (mayoritas) Ulama bahwa kemunculannya adalah dampak dari pada perbedaan pendapat antara Wasil bin ‘Atha’ Al-Ghazzal (80-131 H.) dengan gurunya Imam Al-Hasan Al-Basri r.a (22-110 H) dalam masalah dosa besarمرتكب الكبيرة) ).

Ketika Imam Al-Hasan sedang mengajar datang seorang lelaki bertanya tentang hukum melakukan dosa besar adakah menjadi kufur atau sebaliknya? Belum sempat beliau menjawab tiba-tiba bangun salah seorang muridnya yaitu Wasil lalu berkata: “Tidak aku berpendapat bahwa mereka itu mukmin sejati dan tidak juga kafir secara mutlak bahkan mereka itu berada di antara dua tempat (المنزلة بين منزلتين)” yaitu antara iman dan kufur. Lalu Imam al-Hasan berkata kepadanya: “asinglah diri kamu dari kami wahai Wasil”. Dampak dari pada peristiwa itu dia dan pengikutnya dipanggil golongan muktazilah (orang yang terasing).

 

Kadang kala golongan ini dipanggil kaum Al-Qadariah dan kadang kala dipanggil Al-Mua’ththilah. Pada asalnya golongan ini sebenarnya memang kuat mempertahankan akidah Islam tetapi mereka lebih menggunakan manthiq akal (logika) daripada dalil naqli (Al-Quran dan Hadis). Mereka memerangi golongan Bathiniah(Syiah), Yahudi, Nasrani dan semua yang sesat.

 

Di ceritakan bahwa Abu Al-Huzail Al-‘Allaf (135-226H) salah seorang syeikh (guru) Muktazilah di Basrah telah mengislamkan sebanyak tiga ribu (3.000) orang majusi dengan cara berdebat dan berbincang. Walaupun demikian mereka tersilap langkah dengan menghujam Ahli Sunnah Wal Jamaah dengan senjata yang sama yang pernah digunakan untuk memerangi golongan yang menyelewang dari Islam.

 

Dalam tempo yang singkat saja pengaruh faham golongan ini berkembang begitu cepat dan mempunyai pengaruh yang besar sehingga Yazid bin Al-Walid (125 – 126 H* tahun memerintah) dan Marwan bin Muhammad(127 – 132 H*) dari pemerintah kerajaan Umawiyyah dan Al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid(198 – 218H*) , Al-Muktasim bin Harun Ar-Rasyid (218 – 227 H*) dan Al-Wasiq bin Al-Mu’tasim (227 – 232 H*) dari kerajaan Abbasiyyah telah menjadikannya sebagai pegangan (‘aqidah) resmi dalam negara dan kerajaan. Bahkan mereka ini menggunakan kekerasan bagi siapa yang tidak sehaluan dengan mereka seperti yang berlaku terhadap Imam Buwaithi pengganti imam As-Syafi’i yang dihukum bunuh dan Imam Ahmad bin Hanbal disiksa dan dipenjara karena bertegas mengatakan bahwa Al-Quran itu adalah kalam Allah dan bukannya makhluk seperti yang didakwa oleh golongan muktazilah.

 

 

USUL LIMA MUKTAZILAH

 

Terdapat lima usul yang menjadi pegangan utama golongan muktazilah yaitu

 

1-Tauhid,

2-Keadilan Allah S.W.T. ( العدل),

3-Janji baik dan janji buruk,

4-Manzilah baina manzilataini(المنزلة بين المنزلتين) dan

5- Amar maaruf nahi mungkar (الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر).

 

Usul lima ini mestilah dihimpun dan digabungkan semua sekali, dan barangsiapa yang tidak mengaku dan berpegang antara salah satunya maka dia sebenarnya bukanlah dianggap pengikut muktazilah yang sebenarnya. Sebagaimana yang disebut oleh Abu Al-Hasan Al-Khayyat (meninggal pada 300 H) salah seorang pemimpin muktazilah di kurun ke 3 hijrah dengan katanya: “Dan tidak berhak salah seorang dari mereka (pengikut muktazilah) dinamakan muktazilah sehingga dia menghimpunkan kesemua pegangan usul lima yaitu tauhid, keadilan, janji baik dan buruk, manzilah baina manzilataini dan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Apabila telah lengkap kelima-lima usul ini maka layak baginya digelar pengikut muktazilah”.

 

Dalam usul yang pertama yaitu tauhid, diantara kandungan pegangan mereka ialah;

  1. Mustahil melihat Allah S.W.T. di akhirat (رؤية الله).
  2. Tiada sifat bagi Allah S.W.T. melainkan zatNya saja dan,
  3. Al-Quran adalah makhluk.

 

Antara i’tiqad mereka dalam usul yang kedua yaitu al-adl, diantaranya adalah;

Allah S.W.T. tidak menjadikan perbuatan hamba-Nya sama ada perbuatan yang baik maupun yang buruk, tetapi hamba-Nya sendiri yang melakukannya dengan ikhtiar dan kehendak masing-masing.

 

Manakala dalam usul yang ketiga yaitu janji baik dan buruk Allah S.W.T. diantaranya adalah;

  1. Mereka berpegang bahwa Allah S.W.T. memberi balasan baik kepada siapa yang melakukan kebaikan dan sebaliknya.
  2. Orang yang melakukan dosa besar tidak akan diampuni dan akan kekal dalam neraka serta tidak akan mendapat syafaat kecuali dia sempat bertaubat sebelum mati.
  3. Mereka juga beriktiqad bahwa Allah S.W.T. wajib memberi balasan pahala kepada hamba yang taat dan wajib mengazab kepada hamba yang melakukan dosa besar.

 

Di dalam usul yang keempat yaitu manzilah baina manzilataini adalah;

Mereka mengatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar bukanlah mukmin dan bukan kafir bahkan kedudukannya adalah di antara dua tempat, antara iman dan kufur.

 

Manakala di dalam usul yang terakhir yaitu amar ma’ruf nahi mungkar, mereka berpegang bahwa;

Wajib atas setiap orang yang beriman menyebarkan dakwah Islamiah dan menunjukkan jalan hidayah kepada mereka yang sesat.

Mereka berkata: “Memadai amar ma’aruf nahi mungkar hanya dengan hati, dan dengan lisan jika tidak mampu dengan hati dan memadai dengan tangan jika tidak mampu dengan keduanya (hati dan lisan) dan jika tidak mampu juga dengan tangan hendaklah menggunakan pedang karena firman Allah S.W.T.


وان طا ئفتان من المؤمنين اقتتلوا فأصلحوا بينهما،فان بغت احداهما على الأخرى فقاتلوا التى تبغى حتى تفئ الى أمر الله

al-Hujurat : 9.

Kewajiban ini tiada bedanya antara orang yang mempunyai kuasa (pemerintah) ataupun orang yang tidak mempunyai kuasa. Mereka juga berpendapat kewajiban ini bukan bermula dengan perintah syara’ tetapi datangnya adalah dari kehendak akal manusia , syara’ hanyalah penguat kepada pendapat akal tersebut sebagaimana yang disebut oleh Al-Jubaie ( (الجبائىsalah seorang syeikh Muktazilah yang meninggal pada 295H .

Kesemua usul ini bertentangan dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah berdasarkan kepada dalil nas al-Quran dan hadits Nabi SAW. Sebenarnya masih ada lagi prinsip dan pegangan yang lain yang tidak disebut disini bahkan ada pegangan-pegangan khusus bagi setiap pecahan pengikut-pengikut muktazilah ini sehingga melebihi 20 pegangan dan prinsip.

 

MAUQIF MUKTAZILAH DALAM PENAFSIRAN AL-QURAN

 

Secara umumnya penafsiran golongan muktazilah berdasarkan kepada Usul Lima. Mereka menggunakan hujjah al-Quran untuk menguatkan pegangan mereka tetapi penafsiran mereka itu berdasarkan pandangan yang sesuai dengan akidah mereka. Golongan ini lebih banyak menggunakan logika akal dari pada nash al-Quran dan hadits sehingga mereka mampu memperdayakan orang banyak.

Contoh penyelewengan penafsiran mereka terhadap al-Quran.

  1. Dalam masalah mereka menjadikan ayat-ayat yang zahirnya menyokong mazhab mereka sebagai ayat muhkamat (tanpa takwilan) dan menjadikan ayat muhkamat kepada ayat mutasyabih (mempunyai beberapa makna ). Manakala ayat (muhkamat dan mutasyabih) yang bertepatan dengan pegangan mereka, tidak akan diubah statusnya. (sila rujuk al-Kasyaf 1/ 337 dan nota kakinya,tafsiran surah ali-‘Imran :7).

    Contoh :

    Status ayat yang diubah daripada muhkamat kepada mutasyabih.Firman Allah S.W.T . الى ربها ناظرة)) –al-Qiamah:23 .Melalui ayat ini mereka mentafsirkan an-nazhar(النظر ) itu maknanya ialah pengharapan (الرجاء) ,penantian terhadap nikmat(التوقع للنعمة ) dan karamah(الكرامة ).Mereka mengatakan bahwa ayat ini bukannya dari nas yang jelas yaitu boleh melihat Allah S.W.T. sebagaimana iktiqad Ahli Sunnah. (sila rujuk al-kasyaf 1/ 337-338 , 4 / 662 )

    Status ayat yang ditukar daripada mutasyabih kepada muhkamat.Firman Allah S.W.T. (لا تدركه الأبصار ) – al –An’am :103.
    Mereka menafsirkan ayat ini bahwa mustahil melihat Allah S.W.T. di akhirat kelak tanpa takwilan dengan makna yang lain.Penafsiran ini bercanggah dengan Ahli Sunnah yang mengatakan bahwa ayat ini perlu diihtimal dengan makna yang lain. (sila rujuk al-Kasyaf 1/ 337-338 , 2 / 54 )

    Status ayat yang tidak diubah yang bertepatan dengan iktiqad mereka.Firman Allah swt.(ان الله لا يأمر بالفحشاء ) –al-A’araf :28 dan ayat ( أمرنا مترفيها ففسقوا فيها) –al-Isra’: 16 (sila rujuk al-Kasyaf 1 / 337-338 , 2 / 98- 99 , 653 – 654 )     

 

  1. Dalam masalah usul al-adl.

    Contoh dalam ayat. (أهم يقسمون رحمة ربّك نحن قسمنا بينهم معيشتهم فى الحياة الدنيا )

al-Zukhruf:32.

Melalui ayat ini mereka mengatakan bahwa Allah S.W.T. hanyalah mengurniakan rezeki yang halal saja kepada hambaNya dan tidak rezeki yang haram bahkan manusialah yang berusaha dengan diri mereka sendiri. sebagaimana yang disebut oleh Az-Zamakhsyari dalam tafsirnya al-kasyaf.Ini karena mereka berpendapat Allah S.W.T. tidak menciptakan perkara yang buruk dan keji.Pendapat ini bersalahan dengan Ahli Sunnah yang berpegang bahwa semua makhluk dan benda adalah diciptakan oleh Allah S.W.T. (sila rujuk al-Kasyaf, 4 / 248 – 249 ).

 

  1. Dalam masalah manzilah baina manzilataini .Contohnya dalam surah Al-Isra’:9-10


ان هذا القرآن يهدى للتى هى اقوم ويشر المؤمنون الذين يعملون الصالحات أنّ لهم أجرًا كبيرًا(9) وأن الذين لا يؤمنون بالأخرة أعتدنا لهم عذابًا اليمًا(10)



Az- Zamakhsyari mengatakan: “Jika kamu berkata : kenapa disebut orang-orang mukmin yang baik dan orang-orang kafir saja tidak disebut orang-orang fasiq ?Maka aku berpendapat : Adalah manusia itu adakalanya mukmin bertakwa dan adakalanya musyrik(kufur) dan sesungguhnya ada sesuatu yang wujud yang berada di antara dua tempat selepas itu(antara iman dan kufur)” .(sila rujuk al-kasyaf 2 / 650 – 651 ).

Ini adalah antara contoh –contoh penafsiran golongan muktazilah yang dapat disebut dan masih banyak lagi contoh-contoh lain yang boleh dirujuk di dalam buku-buku yang berkaitan.

 

 

HASIL KARANGAN GOLONGAN MUKTAZILAH DI DALAM BIDANG PENAFSIRAN AL-QURAN

Banyak kitab tafsir al-Quran yang dikarang dan dihasilkan oleh ulama-ulama muktazilah tetapi tafsiran mereka itu berdasarkan kepada usul mazhab mereka.Hasil karangan mereka ini tidaklah begitu banyak memberi manfaat jika dibandingkan dengan kitab-kitab tafsir yang lain.Kebanyakkan kitab tafsir mereka ini telah luput ditelan zaman tetapi ianya ada disebut oleh ulama Ahli Sunnah yang terdahulu seperti yang disebut oleh Imam As-Suyuti di dalam tabaqat al-Mufassirin dan tabaqat al-mufassirn oleh Ad-Dawadi anak murid kepada As-Suyuti.Tidak banyak kitab mereka ini sampai kepada kita kecuali hanya tiga buah saja yang masih kekal hingga sekarang. Di antara ulama muktazilah yang masyhur dalam menghasilkan kitab tafsir ialah :

1- و اصل بن عطاء(80- 131 ه) “معانى القرأن”

2- قطرب (ت: 206 ه) – ” معانى القرأن”، و”اعراب القرأن”، و” الرد على الملحدين فى متشابه القرأن” ،” ومجاز القرآن”.

3- أ بو بكر عبد الرحمن بن كيسان الأصم (ت: 240 ه )

4- عمرو بن بحر أبى عثمان الجاحظ (ت:255 ه ) – ” نظام القرأن”، و” المسائل فى القرآن”

5- محمد بن عبد الوهاب الجبائى- ابنه أبى هاشم عبدالسلام (ت:295 ه ) -” متشابه القرأن”، و” تفسير القرآن”.

6- أبو القاسم عبد الله بن أحمد البلخى الحنفى ،المعروف بالكعبى المعتزلى (ت: 319 ه ) – كتاب فى التفسير فى اثنى عشر مجلدًا

7- أبو هاشم عبد السلام بن أبى علىّ الجبائى (ت: 321 ه)

8- – أبو مسلم محممد بحر الأصفهانى ( ت: 322 ه ) – كتاب ” جامع التأويل لمحكم التنزيل” فى أربعة عشر مجلدًا وقيل عشرين مجلدًا

9- أبو الحسن علىّ بن عسى الرمانى ( ت : 384 ه ) كتاب تفسير القرآن المجيد

10- عبيد الله بن محمد جرو الأسدى أبو القاسم النحوى العروضى المعتزلى (ت : 387 ه )

11- عبد السلام بن محمد بن يوسف القزوينى ( ت : 483 ه ) – قال السيوطى:يقع فى ثلاثمائة مجلدًا وقيل خمسمائة مجلد كما نقل عن ابن النجار

 

Antara kitab tafsir mazhab muktazilah yang masih kekal hingga kini:

1- القاضى عبد الجبار بن احمد الهمدانى الأسدبانى الشافعى ( ت : 415 ه ) – كتاب” تنزيه القرآن عن المطاعن”

2- الشريف المرتضى العالم الشيعى العلوى (355- 436 ه )- كتاب” أمالى الشريف المرتضى أو غرَر الفوائد و دُرَر القلائد”

3- أبو القاسم محمود بن عمر الزمخشرى ( 467- 538 ه)- كتاب” الكشاف عن حقائق غوامض التنزيل وعيون الأقاويل فى وجوه التأويل”

 

KRITIKAN PARA ULAMA TERHADAP GOLONGAN MUKTAZILAH

Kritikan yang dapat difahami daripada kalam Al- Imam Abu Al-Hasan Al- Asy’ari (260 – 330 H/ 873 – 941 M) :

” Maka sesungguhnya orang yang menyeleweng dan sesat ialah mereka yang mentakwil isi kandungan al-Quran berpandukan pandangan dan pendapat sendiri ,dan mereka yang mentafsir al-Quran mengikut hawa nafsu,suatu tafsiran yang tiada bukti dan dalil ianya datang dari Allah S.W.T. dan bukan juga datangnya dari riwayat Rasulullah s.a.w. dan ahli keluarganya,dan bukan juga datangnya dari orang-orang terdahulu(as-salaf) yang terdiri daripada kalangan sahabat dan tabien r.ahm.Ini merupakan suatu pembohongan terhadap Allah S.W.T. Sesungguhnya mereka telah tersesat dan bukan terdiri daripada kalangan mereka yang mendapat petunjuk”.

Begitu juga kritikan yang dinaqalkan daripada syeikhul Islam Ibn Taimiyyah(662 – 792 H / 1263 – 1328 M) daripada buku muqaddimah Ibn Taimiyyah – Usul at – Tafsir katanya :

” Contohnya mereka berpegang terhadap sesuatu pendapat kemudian dikuatkan dengan lafaz-lafaz dari al-Quran(sebagai hujjah) dan ( dengan itu) mereka bukanlah dari kalangan salaf yang terdiri dari kalangan para sahabat dan tabien r.ahm,tidak juga dari kalangan para imam umat Islam ,pendapat mereka tidak boleh diterima dan begitu juga tafsiran mereka terhadap al-Quran tidak boleh diterima.Dan bukanlah mana-mana tafsiran mereka itu batil melainkan kebatilannya itu muncul dengan pelbagai bentuk rupa yang berbeza.Yang demikian itu dapat ditinjau dari dua sudut. Pertamanya , kadang kala ianya dapat diketahui melalui kerosakan yang terdapat pada pendapat atau pegangan mereka. Keduanya kadang kala dapat ia dapat diketahui melalui kerosakan yang terdapat pada penafsiran mereka terhadap al-Quran samada ketika mereka mengemukan pendapat atau pegangan mereka ataupun ketika jawapan-jawapan yang dikemukakan terhadap orang yang bercanggah dengan (pendapat) mereka.Ada dikalangan mereka yang menggunakan ibarat kalam yang indah dan fasih sedangkan penipuan berlaku pada kalam tersebut.Kebanyakan manusia tidak menyedari dan mengetahuinya umpamanya seperti pengarang kitab al-Kasyaf (Az- Zamakhsyari) dan selain darinya sehinggakan kalamnya itu ‘laris’ dikalangan orang ramai yang membuatkan mereka (orang ramai) tidak percaya wujud kebatilan di dalam penafsiran mereka(muktazilah) yang batil itu-masya-Allah- Dan aku benar-benar lihat(yakin) dari kalangan ulama tafsir dan selain dari mereka melalui apa yang disebut di dalam kitabnya dan melalui kalamnya terhadap tafsiran mereka ,tidak terdapat sesuatupun yang selari dengan usul mereka(muktazilah) yang diketahui dan dipercayai ada berlaku kefasadan pada usul itu dan perkara itu(usul yang fasad) tidak akan diberi petunjuk”.

Anak murid kepada Ibn Taimiyyah yaitu Al-‘Allamah Ibn Qayyim Al-Jauzi (691 – 751 H / 1292 – 1350 M ) juga turut mengkritik golongan muktazilah yang menafsirkan al-Quran mengikut hawa nafsu dan akal fikiran sebagaimana yang disebut di dalam bukunya ( أعلام الموقّعين) dengan katanya :

” Itu adalah sampah pemikiran, hampas buah fikiran , habuk kepada pandangan dan was-was kepada keteguhan .Maka
apabila mereka memenuhinya dihelaian kertas-kertas lalu kertas bertukar menjadi hitam ,diisinya di dalam hati –hati lalu hati akan dipenuhi dengan keraguan dan dibentangkan di alam buana lalu alam akan musnah. Setiap individu yang mempunyai akal yang waras mengetahui bahwa kemusnahan alam hanyasanya berpunca daripada mendahulukan pandangan akal daripada wahyu dan mendahulukan hawa nafsu daripada akal fikiran”.

Ha za Wabillahi At- taufiq ,wallahu ta’ala ‘a’lam

Rujukan :


1 ) At- Tafsir wal muffasirun , Dr. Mohd Hussin Az – Zahabi

2) Al – Milal wa An- Nihal , As-Syeikh As- Syahrastani

3) Ad-Dakhil Fi At- Tafsir ,juzuk pertama
, Dr.Abdul Fattah Muhammad Ahmad Khudhor , kitab kuliah Shibin El- Kom

4) Dirasat fi Al-Milal wa An-Nihal,prof.Dr Mubarak Hasan Husin Ismail ,kitab kuliah Shibin El-kom.

5) Al – Kasyaf , Az – Zamakhsyari ,cetakan maktabah Darul Ar-Rayan li At- turath.



 

Iklan
Komentar Dinonaktifkan pada Muktazilah Dan Mauqif Penafsiran Mereka Terhadap Al-Quran

%d blogger menyukai ini: