DAKWAH SUNNIY


Manaqib Imam Syafi’i (150 – 204)

Posted in Inilah Ahlussunnah Wal Jama'ah,Kenapa Tidak Bermazhab,Sejarah Wali oleh dakwahsunniy pada 15 Oktober 2009

NAMA DAN NASAB

 

Nama beliau adalah Muhammad, biasa dipanggil dengan Abi Abdillah, ayah beliau bernama Idris, ibu beliau berasal dari suku Azd, Yaman, beliau dilahirkan pada tahun 150 Hijriyah, pada tahun tersebut merupakan tahun wafat Imam Hanafi. Imam Syafi’i dilahirkan di Ghuzzah atau Gaza wilayah negeri Syam (Palestina), ada riwayat mengatakan di Asqalan, ada riwayat mengatakan di Ghuzzah atau Gaza dengan kotanya Asqalan, dan ada yang mengatakan di Yaman yang merupakan daerah asal ibu kandungnya. Beliau masih mempunyai hubungan keluarga dengan Rasulullah SAW, dari kakek keduanya yaitu ABDUL MANAF. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat sisilah berikut;

SILSILAH NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW 

SILSILAH IMAM SYAFI’I RADHIYALLAHU ‘ANHU

 

Kilaab 

 
 

Qushay 

 

1

A B D U L M A N A F 

1

2

HASYIM (dari sini bermula BANI HASYIM)

MUTHALLIB (dari sini bermula BANI MUTHALLIB)

2

3

Abdul Muthallib

Hasyim 

3

4

Abdullah

Abdul Yazid 

4

5

MUHAMMAD (RASULULLAH)

Ubaid 

5

6

 

As-Saaib 

6

7

 

Syafi’i

7

8

 

Usman 

8

9

 

Abbas 

9

10

 

Idris 

10

11

 

MUHAMMAD (IMAM SYAFI’I)

11

Dengan demikian maka dapatlah kita lihat bahwa ABDUL MANAF bin QUSHAY yang merupakan kakek Nabi Muhammad SAW juga kakek Imam Syafi’i RA. ABDUL MANAF merupakan kakek ke-3 bagi Rasulullah dan kakek ke-9 bagi Imam Syafi’i. Dengan kata lain bahwa Rasulullah merupakan keturunan ke-5 dari Abdul Manaf dari anaknya Hasyim, sehingga nabi Muhammad SAW tergolong dalam BANI HASYIM. Sedangkan Imam Syafi’i merupakan keturunan ke-11 dari Abdul Manaf dari anaknya Abdul Muthallib atau Muthallib, sehingga Imam Syafi’i tergolong dalam kelompok BANI MUTHALLIB. Baik BANI HASYIM maupun BANI MUTHALLIB adalah kedua-duanya dari suku atau bangsa QURAISY, maka Imam Syafi’i dari suku atau bangsa Quraisy yang merupakan suku yang paling mulia dari segala suku yang ada didunia.

Nama Abdul Muthallib atau Muthallib yang terdapat pada silsilah Rasulullah bukan Abdul Muthallib atau Muthallib yang ada pada silsilah Imam Syafi’i, begitu pula nama Hasyim yang ada pada silsilah Rasulullah juga bukan Hasyim yang ada pada silsilah Imam Syafi’i, artinya keduanya memiliki nama yang sama tapi orangnya berbeda. Adapun ABDUL MANAF yang ada pada silsilah Rasulullah itu adalah ABDUL MANAF yang ada pada silsilah Imam Syafi’i.

Sebutan “Asy-Syafi’i” dibangsakan kepada kakeknya yang bernama SYAFI’ bin AS-SAIB, seorang shahabat Rasulullah SAW. Sedangkan As-Saib adalah seorang yang mirip dengan Rasulullah SAW.

PERJALANAN HIDUP DAN PENDIDIKAN

Imam Syafi’i adalah seorang anak yatim yang berkehidupan sempit dan susah, bersama sang ibu dan hanya ibu tercinta yang mendorong semangat meraih harapan dan cita-cita. Imam syafi’i belajar Fiqih pada seorang mufti Mekkah yang bernama Muslim bin Khalid yang dikenal dengan Az-Zanjiy. Sejak kecil Imam Syafi’i senantiasa duduk bersama Ulama, dan apa yang beliau dengar dari pada Ulama beliau mencatatnya pada tulang-tulang dan seumpamanya, sehingga tempat tinggalnya telah penuh dengan tulang-tulang catatannya.

 

Pada usia 02 tahun Imam Syafi’i    dibawa ke Mekah, beliau tinggal disana dan belajar ilmu.

Pada usia 07 tahun Imam Syafi’i    telah bisa menghafal seluruh Al-Quran.

Pada usia 10 tahun Imam Syafi’i    telah bisa menghafal kitab Muwattha’ Imam Malik bin Anas.

Pada usia 15 tahun Imam Syafi’i    telah mendapat izin dari gurunya untuk menjadi Mufti.

Pada usia 2 tahun Imam Syafi’i dibawa ibunya ke Mekah, beliau tinggal disana dan belajar ilmu. Dari Mekah beliau berangkat menuju Madinah untuk menemui Imam Malik dan berguru padanya. Setelah 16 tahun lama di Madinah Imam Malik telah wafat maka Imam Syafi’i berangkat ke Baghdad pada tahun 195 Hijriyah, di Baghdad beliau bertemu dengan Muhammad bin Hasan murid dari Imam Abu Hanifah. Baru 2 tahun beliau berada di Baghdad maka ulama-ulama Baghdad berhimpun dan berguru kepada Imam Syafi’i, bahkan sangat banyak dari mereka yang meninggalkan mazhab mereka yang lama dan mengambil mazhab syafi’i, seperti Muzanni yang dulunya bermazhab Hanafi dan Buwaithiy yang dulunya bermazhab Malik. Kitab Imam Syafi’i yang ditulis di Baghdad itu diistilah dengan Kitab atau Qaul Qadim.

Kemudian Imam Syafi’i kembali ke Mekah untuk beberapa waktu, dan pada tahun 198 Imam Syafi’i kembali lagi ke Baghdad, kemudian beliau keluar dari Baghdad menuju Mesir, sesampai di Mesir beliau mengajar di Universitas Al’Atiq Mesir. Lalu di Mesir itulah, tepatnya pada hari Jumat tanggal 30 Rajab 204 Hijriyah Imam Agung Asy-Syafi’i kembali kehadhirat Allah SWT. Usai shalat ‘Ashar pada hari tersebut Imam Syafi’i di Mesir dimakamkan.

Ilmu beliau telah tersebar keseluruh penjuru bumi, sehingga oleh sebagai ulama sepakat mengatakan bahwa hadits Rasulullah SAW yang artinya “ada seorang yang ‘alim dan suku Quraisy yang ilmunya akan memenuhi seluruh penjuru dan lapisan bumi” bahwa orang ‘alim yang dimaksud Rasulullah adalah Imam Syafi’i. Satu dari sejumlah ulama besar yang berpendapat seperti itu adalah Imam Ahmad bin Hanbal, beliau berkata; kata “alim’ yang ada dalam hadits Rasulullah itu adalah Asy-Syafi’i.

Imam Syafi’i membagikan malam kepada 3 waktu, 1/3 malam untuk ilmu, 1/3 untuk Shalat dan 1/3 tidur. Beliau mengkhatam Al-Quran tiap-tiap sehari semalam satu kali, dan adapun pada bulan Ramadhan maka beliau mengkhatam Al-Quran selama Ramadhan 60 kali, semua itu dibacanya dalam shalat.

Imam Syafi’i berkata; “Aku tidak pernah mengenyangkan perutku sejak usiaku 16 tahun, karena sesungguhnya kenyang itu menambah berat badan, membuat hati jadi keras, menghilangkan kepintaran berpikir, mengundang kantuk dan tidur serta melemahkan badan dari berbuat ibadah”. “Seumur hidupku aku tidak pernah bersumpah dengan membawa nama Allah, baik untuk hal bohong dan juga untuk hal yang benar”.

Ditanyakan kepada Imam Syafi’i akan suatu masalah, maka Beliau hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan itu, hingga dikatakan baginya, “kenapa engkau tidak menjawabnya wahai tuan Imam? Maka Imam Syafi’i menjawab, “hingga aku ketahui akan yang terbaik bagiku apakah pada diamku dan pada jawabanku”.

Imam Syafi’i adalah orang yang doanya diterima oleh Allah SWT. Dari antara sekian banyak doanya adalah sebagai berikut;

 

اَللَّهُمَّ امْنُنْ عَلَيْنَا بِصَفَاءِ الْمَعْرِفَةِ، وَهَبْ لَنَا تَصْحِيْحَ الْمُعَامَلَةِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ عَلَى السُّنَّةِ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ. وَامْنُنْ عَلَيْنَا بِكُلِّ مَا يُقَرِّبُنَا إِلَيْكَ مَقْرُوْنًا بِعَوَافِي الدَّارَيْنِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

PARA GURU IMAM SYAFI’I

Imam Syafi’i mengambil ilmu dari para ulama di berbagai tempat misalnya di Makkah, Madinah, Kufah, Bashrah, Yaman, Syam dan Mesir. Imam AL-Baihaqi menyebutkan beberapa orang guru Imam Asy-Syafi’i di antaranya sebagai berikut:

Di Makkkah

  • Imam Sufyan bi Uyainah.
  • Abdurrahman bin Abu Bakar bin Abdullah bin Abu Mulaikah.
  • Ismail bin Abdullah Al-Muqri.
  • Muslim bin Khalid Az-Zanji.

    Di Madinah

  • Imam Malik bin Anas.
  • Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawirdi.
  • Ibrahim bin Sa’ad bin Abdurrahman.
  • Muhammad bin Ismail Abu Fudaik.

    Di tempat-tempat yang lain

  • Hisyam bin Yusuf Al-Shan’ani.
  • Mutharrif bin Mazin Al-Shan’ani.
  • Waki’ bin Jarrah
  • Muhammad bin Hasan Al-Syaibani.

    PARA PERAWI MAZHAB IMAM SYAFI’I

    PERAWI QAUL QADIM;
    Imam Ahmad bin Hanbal (IMAM HANBALIY) (Wafat : 241 H)
    Abu Tsur Ibrahim bin Khalib bin Abi AL-YAMANI (Wafat : 237 H)
    Hasan bin Muhammad bin Ash-Shabah AL-BAGHDADIY (Wafat : 260 H)
    Husain bin ‘Ali bin Yazid Abu ‘Ali AL-KARABISIY (Wafat : 284 H)

    PERAWI QAUL JADID;
    Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya AL-BUWAITHIY (Wafat : 231 H)
    Abu Ibrahim Ismail bin Yahya AL-MUZANNIY (Wafat : 264 H)
    Rabi’ Muradiy (Wafat : 260 H)
    Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakim (Wafat : 268 H)

    PENERUS PENGRIWAYATAN;
    Hujjatul Islam AL-GHAZALI (Wafat : 505 H)
    Abu Qasim AR-RAFI’I (Wafat : 623 H)
    Al-Qadhi ‘Izuddin bin Abdissalam SULTHANIL ULAMA (Wafat : 660 H)
    Muhyiddin AN-NAWAWI (Wafat : 676 H)
    Ibnu Daqiqil’id (Wafat : 702 H)
    Taqiyuddin AS-SUBKIY (Wafat : 756 H)
    Jalaluddin AS-SUYUTHI (Wafat : 911 H)

    IMAM SYAFI’I ADALAH MUJTAHID MUTLAQ ATAU MUJTAHID MUSTAQIL
    Apakah sama orang buta dengan orang yang melihat? Tentu tidak.
    Ketika orang – orang yang bisa melihat mulai melihat, apakah mereka akan melihat kepada arah yang sama? Bisa ya, bisa tidak. Ketika mereka melihat kepada arah yang sama apakah hasil yang mereka lihat merupakan suatu kesimpulan yang sama.? Tentu juga tidak.
    Apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang bodoh? Tentu tidak?
    Kalau bodoh dan ilmu tidak sama maka kenapa dan bagaimana ada sebahagian manusia memaksa agar semua manusia harus mengambil hukum sendiri dari Al-Quran dan Sunnah, bukankah diantara kita ada yang belum bisa baca Al-Quran.
    Dan ketika semua orang-orang bodoh berhimpun maka tentu kebodohan mereka itu tidak sama, ada yang sangat bodoh dan ada yang bodoh sedikit. Begitu juga ketika orang – orang berilmu berhimpun pada satu perkumpulan maka tentu ilmu dan kepandaian mereka juga tidak sama. Anda yang pandai sedikit dan ada yang sangat pandai. Begitu juga masalah ulama dan masalah mujtahid. Kita mengatakan bahwa semua mujtahid itu pandai, tapi tentu kepandaian mereka itu tidak sama dan tidak sederajat. Maka oleh karena  para ulama dan mujtahid dalam ilmu fiqih berbeda. ada yang terglong dalam MUJTAHID MUTLAQ atau MUSTAQIL., dan ada pula yang tergolong dalam MUJTAHID MUQAYYAD atau MUNTASIB.

    IMAM SYAFI’I ADALAH MUJADDID

    Telah bersabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah SWT membangkitkan bagi umat ini (Islam) pada tiap – tiap 100 tahun akan seorang yang memperbaharui agama umat ini”. (H.R. Abu Dawud, Hakim dan Baihaqqiy dari Abu Hurairah).

    Imam Syafi’i dilahirkan pada periode kedua dari sejarah lahirnya mujaddid tersebut. Untuk lebih jelas mari kita lihat tabel dibawah ini;

     

    PERIODE

    NAMA MUJADDID

    TAHUN WAFAT

    100 Tahun Ke – 1 

    ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Khalifah

    101 Hijriyah

    100 Tahun Ke – 2 

    MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I

    204 Hijriyah

    100 Tahun Ke – 3 

    Qadhi Ahmad bin Umar bin Suraiji

    306 Hijriyah

    100 Tahun Ke – 4

    Abu Hamid Ahmad bin Muhammad Asfarayaniy

    406 Hijriyah

    100 Tahun Ke – 5 

    Hujjatul Islam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali

    505 Hijriyah

    100 Tahun Ke – 6 

    Fakhruddin Ar-Razi bin Al-Khathib

    606 Hijriyah

    100 Tahun Ke – 7 

    Taqiyuddin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (Ibnu Daqiqil ‘Id)

    702 Hijriyah

    100 Tahun Ke – 8

    Sirajuddin ‘Umar bin Ruslan Al-Bulqainiy

    805 Hijriyah

    100 Tahun Ke – 9 

    Jalaluddin ‘Abdurrahman As-Suyuthi

    911 Hijriyah

    100 Tahun Ke – 10 

    Syamsuddin Al Jamal Muhammad bin Ahmad Ar-Ramliy

    1004 Hijriyah

    100 Tahun Ke – 11 

    Sayyid Abdul Qadir bin Abi Bakar Al-Idrus

    Hijriyah

    100 Tahun Ke – 12 

    Syeikh Ahmad Ad-Dairabiy Al-Mishriy

    Hijriyah

    100 Tahun Ke – 13

    Syaikhul Islam Abdullah bin Hijaziy Asy-Syarqawiy

    1227 Hijriyah

    100 Tahun Ke – 14 

    Syeikh Muhammad Mutawalliy Asy-Sya’rawiy

    Hijriyah

     

    RANTAI EMAS KITAB SYAFI’IYYAH

  1. AL-UM, AL-IMLA, AL-BUWAITHIY, MUKHTASHAR MUZANNIY, 4 kitab tersebut adalah karangan Imam Syafi’i.
  2. NIHAYAH MATHLAB FI TAHRIRI MAZHAB, karangan Imam Haramain yang merupakan ringkasan dan kumpulan dari 4 kitab Imam Syafi’i yang tersebut diatas.
  3. AL-BASITH, AL-WASITH, AL-WAJIZ, AL-KHULLASHAH, 4 kitab karangan Imam Ghazali yang diringkaskan dari kitab NIHAYAH MATHLAB FI TAHRIRI MAZHAB Imam Haramain.
  4. SYARAH SHAGHIR, SYARAH KABIR, 2 kitab karangan Imam Rafi’i yang disyarah dari kitab AL-WAJIZ Imam Ghazali. (KITAB SYARAH KABIR ini dikatakan memiliki 2 nama lain yaitu AL-‘AZIZ dan ASHAL RAWDHAH.
  5. AL-MUHARRAR, karangan Imam Rafi’i yang diringkaskan dari kitab AL-WAJIZ Imam Ghazali.
  6. RAWDHAH ATH-THALIBIN, karangan Imam Nawawi yang diringkaskan dari kitab SYARAH KABIR Imam Rafi’i.
  7. MINHAJ ATH-THALIBIN, karangan Imam Nawawi yang diringkaskan dari kitab AL-MUHARRAR imam Rafi’i.
  8. KANZUL GHARIBIN, karangan Jalaluddin Al-Mahalliy, syarah kitab MINHAJ ATH-THALIBIN Imam Nawawi.
  9. TUHFAH AL-MUHTAJ, karangan Ibnu Hajar Al-Haitamiy, syarah kitab MINHAJ ATH-THALIBIN Imam Nawawi.
  10. MUGHNI AL-MUHTAJ, karangan Khathib Syarbiniy, syarah kitab MINHAJ ATH-THALIBIN Imam Nawawi.
  11. NIHAYAH AL-MUHTAJ, karangan Imam Ramliy, syarah kitab MINHAJ ATH-THALIBIN Imam Nawawi.
  12. MANHAJ THULLAB, karangan Syaikhul Islam Zakaria Anshariy, diringkaskan dari kitab MINHAJ ATH-THALIBIN Imam Nawawi.
  13. FATHUL WAHHAB, karangan Syaikhul Islam Zakaria Anshariy yang merupakan syarah kitab MANHAJ THULLAB karangan beliau sendiri.
  14. HASYIYYAH RAWDHAH, karangan Imam Asnawi, Ibnu ‘Imad, Bulqainiy dan Azra’iy, menjelaskan maksud kitab RAWDHAH ATH-THALIBIN Imam Nawawi.
  15. KHADIM AR-RAWDHAH, karangan Imam Zarkasyi yang diringkaskan dari kitab HASYIYYAH RAWDHAH tersebut diatas.
Iklan
Komentar Dinonaktifkan pada Manaqib Imam Syafi’i (150 – 204)

%d blogger menyukai ini: